sains tentang peregangan tubuh
melepaskan trauma yang tersimpan di otot
Pernahkah kita menyadari, saat sedang stres berat karena tumpukan pekerjaan, bahu kita tiba-tiba naik mendekati telinga? Atau tanpa sadar, rahang kita mengatup rapat berjam-jam? Saya sendiri sering mengalaminya. Rasanya badan jadi kaku dan berat. Lalu secara instingtif, kita meregangkan tubuh. Tarik napas panjang. Terdengar bunyi krek ringan di tulang punggung. Sejenak, rasanya beban pikiran ikut menguap bersama hela napas. Teman-teman, sensasi lega itu sama sekali bukan ilusi. Ada sains yang sangat memukau di balik sebuah peregangan sederhana. Peregangan ternyata bukan cuma urusan sendi dan otot. Ini adalah soal bagaimana tubuh fisik kita merekam sejarah hidup dan luka masa lalu.
Mari kita mundur sejenak untuk melihat gambaran besarnya. Selama ratusan tahun, kita diajarkan bahwa tubuh dan pikiran adalah dua hal yang benar-benar terpisah. Sejarah filsafat mencatat fenomena ini sebagai Cartesian dualism. Akibatnya, kita sering memperlakukan tubuh layaknya sebuah mesin. Kalau otot pegal, ya dipijat. Kalau batin yang stres, ya pergi curhat ke psikolog. Padahal, batas antara tubuh dan pikiran itu sangatlah buram. Otak kita tidak pernah berhenti mengobrol dengan tubuh melalui jaringan sistem saraf. Coba bayangkan tubuh kita sebagai sebuah hard drive komputer. Saat kita mengalami kejadian traumatis, otak memproses rasa takutnya. Tapi, ke mana perginya energi fisik dari rasa takut itu? Energi itu tidak selalu hilang begitu saja. Sangat sering, ketegangan itu mengendap dan tersimpan rapi di dalam serat-serat otot kita.
Untuk memahami kejanggalan ini, mari perhatikan hewan di alam liar. Saat seekor rusa berhasil lolos dari kejaran singa, apa yang ia lakukan setelah selamat? Rusa itu tidak duduk di bawah pohon lalu merenungi nasibnya. Rusa itu akan berdiri dan bergetar hebat. Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya secara intens untuk membuang sisa hormon stres. Setelah itu, ia kembali makan rumput seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lalu, bagaimana dengan kita manusia? Saat kita dimarahi atasan, mengalami kecelakaan kecil, atau memendam kesedihan, kita seringnya hanya duduk diam. Kita menahan diri agar tetap terlihat profesional dan tegar. Hormon adrenalin dan kortisol yang sudah terlanjur membanjiri aliran darah tidak mendapat jalan keluar. Pertanyaannya, ke mana perginya energi fight or flight yang tertahan itu? Jawabannya cukup mengejutkan. Energi itu terkunci rapat di dalam fascia, yaitu jaringan ikat super tipis yang membungkus setiap otot kita. Menariknya lagi, ada satu kelompok otot di area pinggul yang sering dijuluki sebagai "otot jiwa". Otot ini disebut-sebut sebagai gudang utama penyimpan trauma. Lalu, bagaimana cara kita meretas otot rahasia ini?
Di sinilah sains yang sebenarnya mulai bekerja. Otot yang kita bicarakan tadi adalah otot psoas (dibaca so-as). Letaknya tersembunyi di rongga panggul bagian dalam, menghubungkan tulang belakang bagian bawah langsung dengan tulang paha. Saat sistem saraf kita mendeteksi bahaya, insting purba menyuruh tubuh meringkuk seperti janin untuk melindungi organ-organ vital di perut. Otot psoas-lah yang bertugas melakukan kontraksi perlindungan itu. Ketika trauma emosional tidak pernah diselesaikan, otot psoas dan fascia di sekitarnya tetap berada dalam mode tegang. Bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.
Saat kita melakukan peregangan yang dalam—seperti pose yoga tertentu atau terapi Trauma Releasing Exercises (TRE)—kita sebenarnya sedang melakukan intervensi langsung pada sistem saraf otonom. Peregangan memberikan sinyal mekanis ke saraf vagus, yakni "kabel data" utama yang menghubungkan organ tubuh ke otak. Peregangan mengirim pesan penting ke otak: "Kita sudah aman." Saat serat otot merenggang, ketegangan fisik yang terkunci itu akhirnya lepas. Seringkali pelepasan ini disertai getaran spontan pada tubuh kita, persis seperti rusa tadi. Bahkan, secara psikologis tidak jarang seseorang tiba-tiba menangis tersedu-sedu saat pinggul atau dadanya diregangkan, padahal ia sedang tidak memikirkan hal sedih. Itu adalah bukti nyata. Memori trauma secara harfiah sedang "menguap" keluar dari sel-sel otot kita.
Mempelajari keajaiban biomekanis ini membuat saya sadar akan satu hal yang sangat penting. Kita sering kali terlalu keras pada diri kita sendiri. Kita selalu memaksa otak untuk memecahkan semua masalah emosional melalui logika dan kata-kata. Padahal, kadang-kadang tubuh kitalah yang butuh diberi ruang untuk bicara. Teman-teman, jika hari ini terasa begitu berat dan melelahkan, cobalah berdiri dari kursi sebentar. Rentangkan tangan lebar-lebar, putar bahu, tarik pinggul ke belakang. Rasakan otot-otot yang kaku itu kembali dialiri darah dan oksigen. Tubuh kita adalah saksi bisu yang paling setia dari semua perjuangan yang telah kita lewati. Merawat tubuh dengan meregangkannya bukan sekadar rutinitas olahraga fisik. Itu adalah bentuk empati dan kasih sayang terdalam untuk diri kita sendiri. Mari kita lepaskan apa yang memang sudah tidak perlu lagi kita bawa. Tarik napas yang dalam, regangkan, dan lepaskan.